Baccarat try to play_Real Money Gambling Site_Baccarat table

  • 时间:
  • 浏览:0
  • 来源:Satu-satunya cara untuk menang melawan baccarat

Lalu penRoulette gamblingroulette gamblinggemudi ojek daring menghapus kekhawaRoulette gamblingtiran saya, “Kak, kita kejar hujannya ya.” Saya kira pengemudi tersebut akan terima nasib kehujanan di jalan, nyatanya, diinjaknya pedal gas dan motor yang kami tumpangi berlari seperti motor Valentino Rossi. Tidak kurang dari tiga menit, saya sampai di rumah dengan selamat dan tidak kehujanan barang setetes pun.

Selama itu pula, pasti banyak deretan penggalan cerita yang teman-teman dengarkan atau rasakan bersama pengemudi ojek daring di sepanjang perjalanan menuju tempat tujuan. Oleh karena itu, saya merangkum beberapa pengalaman selama lima tahun menggunakan jasa ojek daring.

Musim hujan tiba. Tanpa disangka-sangka terkadang awan menggumpal hitam, begitulah situasi hari itu. Saya sedang di jalan sepulang dari perpustakaan nasional menumpang ojek daring. Cuaca yang tadinya cerah, tiba-tiba mendung kelabu. Jarak rumah saya masih sekitar sepuluh menit.

Dua minggu berturut-turut, saya menumpang ojek daring yang sama-sama motornya, sama nomor platnya juga pengemudinya pun orang yang sama. Di jalan, yang tadinya saling diam, akhirnya pengemudi ojek daring itu mengajak saya mengobrol. Ketika sampai di tujuan, karena kebiasaan, saya selalu menyelipkan uang tip di tengah-tengah lipatan uang kertas.

Pertemuan pertama, kami saling diam. Pertemuan kedua, dia mulai curhat pernah bekerja di Thailand. Pertemuan ketiga, pengemudi ojek daring tersebut ‘seolah’ pamit hendak pensiun dari ojek daring dan ingin kembali bekerja  di Thailand.

Pernah tidak, bertemu pengemudi ojek daring yang suka curhat? Kejadian ini saya alami sendiri. Setiap minggu, saya memesan ojek daring dan selalu ‘menyangkut’ di pengemudi yang sama.

Kami pun melanjutkan perjalanan di tengah-tengah perkebunan sepi.

“Pak, kita salah jalan.”

Tapi Bapak itu tetap teguh, dan meneruskan perjalanan hingga bertemu jalan hitam beraspal dan ramai lagi.

Sore itu sehabis bertemu teman-teman, saya hendak pulang ke kostan dan memesan ojek daring. Sekitar lima menit, pengemudinya pun datang. Saat saya sudah duduk di jok penumpang, tiba-tiba pengemudi itu bilang, “Kak, tolong arahkan saya ya.”

Saya menumpang ojek daring dari rumah saudara. Pengemudinya masih cukup muda. Diperjalanan, saya bertanya berapa lama dia bekerja sebagai pengemudi ojek daring dan apa tujuannya bekerja. Jawaban dari pengemudi tersebut lumayan menohok. Dikatakannya, dia bekerja untuk biaya kuliah, meringankan beban orangtua, memberi jajan adik-adiknya. Sedihnya motor yang digunakan pun hasil menyicil dan dia yang menanggung bayarannya tiap bulan. Di sana, saya sangat bersyukur bertemu dengan orang asing yang bisa menyadarkan saya untuk memperbanyak rasa terima kasih pada Tuhan.

Awalnya saya bingung, kenapa tiba-tiba minta diarahkan. Ternyata, pengemudi tersebut tidak hafal arah jalan ke kostan yang saya tuju dan meminta saya mengarahkannya.

Sewaktu saya melanjutkan kuliah di pulau seberang, saya sering menggunakan jasa ojek daring bahkan hampir setiap hari. Tidak jarang, saya mendapatkan pengalaman dan cerita-cerita mengesankan dari para pengemudi yang tak jarang menggugah rasa simpati, lucu bahkan tidak mengenakkan. Sekarang, kurang lebih lima hingga enam tahun ojek daring menemani aktivitas masyarakat Indonesia.

Hari itu juga sama, saya menyelipkan selembar uang walau nominalnya tidak besar dan berharap pengemudi ojek daring tersebut membuka lipatan uang saat dia kembali ke rumah. Ternyata, harapan saya pupus. Pengemudi ojek daring itu membuka lipatan uang dari saya tepat di depan pos satpam seraya berteriak, “Kak! Semoga besok ketemu lagi ya!” dengan muka sumringah.

Baru kali pertama saya mendapatkan pengemudi cukup sepuh. Sepulang kuliah saya bertemu dengan Bapak tersebut. Beliau menyarankan melewati jalan alternatif karena jalan yang biasa dilewati sedang padat merayap. Saya pun menyetujui usulannya. Sepanjang jalan kami biasa saja, melewati rumah-rumah penduduk yang padat, anak-anak yang berlarian. Hingga tiba di tengah-tengah pepohonan pinus.

“Pak, ini di mana ya?”

“Saya juga kurang tahu, Neng. Saya ikut maps saja.”

Saya pun berinisiatif melihat maps milik Beliau.

“Wah, ini sih jauh banget, Pak.”

“Artikel ini merupakan kiriman dari pembaca hipwee, isi artikel sepenuhnya merupakan tanggung jawab pengirim.”

Setelah dua bulan berselang, tak dinyana pesanan saya ‘menyangkut’ pada pengemudi yang pernah pamit itu. “Abang yang suka jemput saya, kan?” dia hanya tertawa, “padahal saya nggak mangkal di sini lagi, kak. Kok bisa ketemu lagi ya?”