Online Baccarat_U.S. legal online casinos_Online Casino Baccarat

  • 时间:
  • 浏览:0
  • 来源:Satu-satunya cara untuk menang melawan baccarat

Baccarat simple best strategymungBaccarat simple best strategykin teBBaccarat simple best strategyaccarat simple best strategyrdengar terlalu manis, jangan sebut karena aku yang jago nulis. Semua kalimat ini mengalir dari keresahan kita yang sedang aku renungkan beberapa saat. Dan ini jawabnya.

Aku nulis ini setelah ngeliat beberapa kasus nikah muda yang berakhir perceraian di internet. Singkat ceritanya ya mereka kenal, seneng-seneng dan memutuskan untuk mengikat janji sehidup semati, tapi nahasnya dari sudut pandang di perempuan, si laki-laki setelah menikah berubah tak seperti orang yang ia puja sebelumnya.

Sebelum denganmu, beberapa tahun lalu aku pernah mengikat hubungan dengan pria posesif lainnya. Aku pernah menangis di kala kata-katanya mengiris hatiku, jangankan bergerak bebas bahkan saat bersamanya aku merasa hidupku membeku. Usianya memang terpaut lima tahun di atasku dan aku berjuang menyeimbangkan pikirannya—yang kukira—sudah lebih matang. Sifat posesifnya membuatku terpenjara saat itu, teman dekatku berkata aku harus meninggalkannya tapi hati menolak keras karena cinta—saat itu. Singkat cerita kami berpisah dan aku tak pernah menyesali perpisahan dengan si posesif ini.

Takut? Ya, sekarang, aku mungkin terbawa lebih banyak perasaan setelah liat kasus itu. Berkaca dengan hubungan yang kujalani sekarang dengan seorang lelaki yang mengaku dirinya posesif (aku belum mengerti kenapa sampai satu dua hal terjadi). Perjalanan bahagia tentu saja selalu jadi bayangan ke depannya, apalagi dengan hubungan yang begitu sempurna saat ini, dengan izin kedua orangtua dan rasa memiliki satu sama lain. Tapi ketakutan masih ada.

“Artikel ini merupakan kiriman dari pembaca hipwee, isi artikel sepenuhnya merupakan tanggung jawab pengirim.”

Tidak separah sebelumnya. Kukatakan aku kagum padamu karena melihat hal apa yang aku terima dari lelaki yang terpaut lima angka usianya. Dengan kamu yang berpikir begitu, kamu lebih dewasa. Satu alasan yang tak bisa disingkirkan kenapa aku memilihmu. Tapi kembali, kutanyakan padamu bagaimana rasanya menjadi laki-laki posesif. Tentu lelah dan menyebalkan saat pikiran itu datang mengganggumu, di sisi lain kauteringat kebebasan yang pernah kautawarkan padaku di awal.

Jakarta, 16 April 2020 16.17

Kita telah melangkah, meski ya baru beberapa bulan bersama dan beberapa waktu terakhir semakin dekat. Saat bersamamu aku sudah berada di usia kepala dua, bukan lagi aku yang belasan tahun, yang mengikat hubungan dengan mudahnya lalu tinggal melangkah pergi saat bosan atau dalam pertikaian. Tapi dari hubungan lamaku, aku belajar berbagai karakter pria. Bagaimana ego mereka, bagaimana sikap mereka dan bagaimana jika disandingkan denganku. Ya, banyak pertimbangan dalam bentuk sikap untuk melengkapi kekurangan diri dan melangkah bersama.

Kami berjalan masing-masing dan hidupku merasa lebih lapang, aku bebas berkumpul dengan teman-teman di kampus tanpa perlu mengabarinya tiap waktu di mana dengan siapa dan sedang apa. Kembali ke 2020, aku dipertemukan kembali dengan pria yang melabeli dirinya posesif. Mulanya aku pikir tidak, karena ia berkata aku bebas melakukan apapun yang aku mau dan tak membatasi pertemananku.

Kamu haru berjuang mengalahkan pikiranmu sendiri, meski kadang rasanya dibuat sesak.

Wanita mungkin banyak, pria juga, tapi kembali arahkan pandanganmu pada satu sosok yang mampu pahami kamu dan berani merangkul mimpi-mimpimu, yang menerimamu dan memudarkan segala kecemasanmu dengan ketenangannya.

Kamu bisa menjaga tanpa mengikatku terlalu erat, dan aku masih bisa bernapas di tengah kebersamaan denganmu.

Aku tau itu sulit tapi aku pikir kamu menang, setelah apa yang kamu lewati. Mungkin itu belum akan berhenti, masih akan menghantui. Tapi perlu kamu tau, bersamaku kamu aman. Kamu hanya perlu ingat sudah berapa langkah besar yang kita ambil dalam waktu dua bulan. Kamu perlu kembali merenungkan hanya kamu laki-laki yang bicara pada orangtuaku tentang keseriusanmu. Cuma kamu. Jadi saat ada pikiran mengganggu, kamu punya kunci yang kuat untuk tetap percaya kamu juaranya.

Sebagai laki-laki dan perempuan jenis ketakutan kami mungkin berbeda. Aku takut ia meninggalkanku, meski pernah berjanji hal itu takkan terjadi, tapi tetap rasanya kadang seperti di pojokan pikiran sendiri. Mungkin rasa ini juga yang kerap mengganggu dia saat rasa posesifnya meletup-letup. Yang kami ingin memang jadi pribadi yang tenang-tenang saja, toh kami saling percaya, tapi sialnya dalam beberapa waktu pikiran berjalan sendiri keluar lintasan, memperlihatkan kami hal buruk yang sebenarnya hanya dalam kepala.

Laki-laki lain mungkin berlalu-lalang lewat ceritaku, tapi tak perlu kamu cemaskan karena keberadaan mereka ya cukup 'ada', bukan 'mengisi'. Bukan kehendakmu terlahir dengan kelebihan memandang terlalu jauh ke depan, sampai kadang berjejal dan membuatmu pusing sendiri. Percayalah aku mau memahami dirimu, membantumu untuk merasa selalu baik-baik saja di dunia ini, denganku.